Monday, 22 June 2015

Trans Studio Bandung Dengan Balita Review

Saya bersemangat sekali menuliskan ulasan tentang kunjungan kami ke Trans Studio Bandung, karena saya berhutang sangat banyak pada review yang ditulis oleh para ibu-ibu blogger tentang ulasan jalan-jalan mereka.

So,here we go!

Selalu menjadi pertanyaan apabila kita memiliki anak balita yang tanggung untuk kita membawa mereka ke tempat rekreasi berwahana. "Apa mereka bisa menikmati permainan disana?". Ini sungguh pertanyaan bijak karena biasanya tempat bermain memiliki peraturan bahwa tinggi minimal anak adalah 100cm.

Nah, jika tinggi anak masih dibawah 100 cm lebih baik kita singkirkan dulu keinginan menggebu untuk membawa mereka ke wahana bermain macam Dufan, Trans Studio, Jungle land, dll.


Sabtu tanggal 18 juni kemarin,akhirnya kami berkesempatan bermain di Trans Studio Bandung (padahal Trans studio berdiri selama 4 tahun dan hanya berjarak 10mnt dari rumah), bersama dengan teman teman kerja Julius. Saya pun masih ragu apakan zippo bisa menikmati permainan disana , karena tinggi badan Zippo sisa sekitar 2cm utuk mencapai 100cm, yah berhubung sudah kepalang dibayarkan apa salahnya mencoba.

Waktu sampai sana kami segera mengukur tinggi Zippori, wow,ternyata dia sudah 101cm! Dannnn, ternyata cukup banyak atraksi yang bisa Zippo nikmati disana. Pertama kali kami menaiki atraksi 4D Super Heroes dari Marvel. Ekspektasi kami cukup tinggi karena ini atraksi pertama yang kami naiki dan untuk pertama kali juga Zippo menikmati sensasi bioskop. Karena selama ini kami tidak pernah mengajaknya ke bioskop. Harapan kami minimalnya atraksi ini bisa menyamai atraksi 4D Shrek di Universal studio.

Tapi ternyata.... BOO! kacamata yang kami kenakan tidak menimbulkan efek 4D, sepertinya lebih baik menonton film 3D di bioskop. Di tengah film yang berdurasi 15 menit Zippo sempat takut karena terguncang-guncang kursi dan menutup matanya rapat-rapat sambil saya buka kacamatanya. Tapi akhirnya dia menyelesaikan atraksi tanpa komplain dan mengenakan kacamatanya kembali. Satu hal yang saya paling sesali adalah membiarkan Zippo menyaksikan adegan kekerasan dari aksi superhero. Yah ini adalah konsekuensi saya sudah tau adegan super-hero pasti adu jotos.
Oya, sepertinya saya lebih payah dari Zippo di atraksi ini, saya menyelesaikan 80% dari atraksi ini dengan membuka kacamata, menutup mata, dan menahan mual. Hoek!


Nah, berbekal pengalaman dan badan yang masih dikuasai sensasi mual, kali ini kami manaiki wahana yang 'aman', salah satunya adalah "Pirate Sky Boat", ini adalah perahu yang dijalankan menggantung di langit-langit trans studio, mengitari semua wahana .
Lalu kami melihat-lihat proses pengambilan acara berita
 menggunakan layar hijau dan mencoba proses dubbing. Disini bisa menjadi lokasi ajang foto-foto.

Sekitar Sore hari ada parade, yang kebetulan merayakan ulang tahun Trans studio ke-4



Yang asyik untuk anak tanggung, disini ada wahana Pulau liliput, berisi permainan serodotan dan mandi bola.
Pulau Liliput

Untuk anak  yang lebih besar sedikit (diatas 100cm dan dibawah 130 cm) ada area bermain "Captain Black Heart Pirateship",  disini area bermain dengan perosotan dan madi bola yang lebih besar area nya dari "pulau Liliput", area bermain ini memiliki 4 lantai. Zippo hampir menghabiskan 1,5 jam bermain di dalam bersama anak lain.
captain blackheart
dalam wahana captain black heart

Dannn, inilah waana favorit Zippori, wahana si Bolang, mirip istana boneka kalau di Dufan. Tanpa tendeng aling-aling! 4 kali kami menaiki wahana ini, untung saat itu transtudio sedang sepi, jadi kami bebas naik turun kereta.



dalam si bolang1


dalam si bolang2

Kunjungan kami ditutup dengan mengunjungi permainan di wahana berbentuk badut, didalamnya disediakan wahana yang ditujukan khusus anak setinggi Zippo, seperti Cangkir putar, Karusel, Mobil senggol, perahu senggol, mobil putar, dan kereta api mini. Anak-anak bisa bermain di wahana ini sepuasnya.
Peta Wahana Trans Studio

Oya,beberapa catatan:
-.Biaya untuk bermain di Trans Studio:
Weekday (bukan libur sekolah): Rp.170.000,-
Weekend dan libur sekolah: Rp. 270.000,-
-.Anak umur 0 tahun dihitung satu tiket,
-.Kita tidak bisa keluar masuk lokasi Trans Studio
-.Ada pengecekan makanan, untuk makanan yang yang ditaruh dalam tempat bekal masih bisa lolos
-.Wahana dengan perosotan harus menggunakan kaus kaki, kalau tidak bawa dapat membeli di tempat seharga Rp.20.000.-
-.Di Trans Studio tersedia gerai makanan, jadi jangan takut kelaparan.
-.Lebih baik meminta brosur terlebih dahulu ke costumer service sebelum bermain, agar kita tidak terlewat atraksi yang hanya ada di jam tertentu,  juga terdapat peta wahana pada brosur tersebut.
-.Sebelum mengunjungi Trans Studio, ada baiknya mengecek terlebih dahulu situs groupon dll. karena suka ada promo buy 1 get 1

Overall, kami cukup puasa bermain disini karena areanya indoor sehingga tidak terkena resiko hujan dan panas, walaupun sepertinya main ke Dufan tetap lebih asyik :D

Friday, 28 November 2014

Zippo's first day at Kindergarten


Fuh,akhirnya hari itu datang juga. Hari pertama Zippo bersekolah. Karena pertimbangan ini dan itu akhirnya diputuskan Zippo akan bersekolah di tempat Jul mengajar.Oya saat itu Zippo berusia 33 bulan alias hampir 3 tahun.

Hari ke-1 dan ke-2 Zippo sekolah tanpa tangisan,cuma nih bocah nempel terus kaya cicak. Hari ke-3 saya memutuskan untuk 'meninggalkan' Zipp d sekolah,karena kehadiran saya membuat mood anak lain yg mulai lepas dr ortunya jadi turun lagi. Alhasil jangan tanya betapa heboh drama perpisahannya, pada waktu pulang sekolah, Zippo tidak terlihat tampak di barisan. Ternyata semenjak ditinggal dia tidak berhenti menangis,hingga akhirnya dia tertidur di kelas saking tidak hentinya menangis.

Tangisan histeris tidak berhenti hingga hari ke-10. Stress luar biasa saudara-saudari, padahal saya orangnya raja tega. Tapi berhubung Zipp sudah pintar bicara, lolongan merajuknya jadi lebih pedih di hati, macam : 'mau sama mamiiii, Zipponya jangan ditinggaaallll'. Huaaaaaa..... sedihnyaaaa... tapi kali ini saya tidak bisa melihat ke belakang. Karena saya harus mulai membantu ayah meneruskan usahanya dalam hitungan hari. Bagian yang biasa dikerjakan oleh adik saya. Tapi berhubung dia akan segera melahirkan maka sudah waktunya saya turun gunung.

'Apakah ini keputusan tepat?',
'Apakah saya terlalu kejam?',
'Apakah Zippo perlu waktu lebih lama?',
'Bagaimana jika Zippo tetap menolak sekolah?'

1001 pertanyaan yang tidak dapat saya jawab. Hanya penjelasan psikolog sekolah yang cukup menenangkan 'ini biasa terjadi pada anak laki-laki,biasanya ini(separation anxiety) terjadi hingga hari ke 13,bila masih tidak ada perkembangan maka kita akan coba pakai pendekatan yang berbeda' dan para guru kelasnya yang  sigap menghadapi Zippo .

Dulu saya ingat sekali, waktu Play Group dan TK, selalu ada anak menangis ditinggal ayah ibunya, saya bicara dalam hati "Ih, kok cengeng sekali ya", berbanding terbalik dengan saya yang sedih kalau sudah dijemput. Tapi saya baru mengerti ternyata proses dan keadaan anak berbeda. Konon, anak yang menangis di hari pertama sekolah paling banyak adalah laki-laki. Gimana dengan Zippo?

And the magic really happened, di hari ke-13 Zippo mulai tidak menangis,walaupun masih minta gendong untuk masuk ke kelasnya.

Untuk teman-teman dekat saya tentu paham betapa saya ingin men'home-schooling' Zippo, betapa saya tidak percaya pada sistem sekolah. Bahwa kepintaran bersosialiasi bisa didapat tidak hanya dari teman sebaya saja. Dan ketakutan Zippo akan diajarkan 'calistung' terlalu dini.

Zippo sungguh beruntung karena sekolahnya mensupport pembelajaran  berdasarkan pribadi sang anak, tidak memaksa, tidak melabeli sang anak , melalui metoda bermain dan membekali dengan nilai agama.

Perkembangan yang sangat terlihat setelah bersekolah adalah Zippo jadi lebih 'berani' berhadapan dengan orang lain (sebelumnya bahkan bersalaman atau toss sekali pun dia tidak mau), berinisiatif menyapa dan mengajak berbicara siapapun orang yang ditemui , belajar berbagi dengan temannya, tapi juga belajar mempertahankan apa yang menjadi miliknya, jadi lebih mandiri daaannn makannya jadi banyaaakk dan apapun menunya. (untuk yang tidak tahu betapa berdarah2 memberi makan Zippo, sila klik: http://mamibex.blogspot.com/2013/09/makan-nak.html )

Oya pilihan bermainnya pun lebih banyak, Screen time terpangkas habis, karena sekarang dia lebih memilih corat-coret, membangun istana dengan blok, ataupun bermain kereta api.
Makin senang beraksi dengan bernyanyi dan menari.

Aaaahhhhhhhh I'm a proud Mommyyyyyy!!!!

Nah,

Pemilihan sekolah sebagai lingkungan luar memang penting, memang tidak ada sekolah yang sempurna, tapi minimalnya kita percaya pada kepala sekolah dan gurunya, Karena mereka yang akan menjadi penggan orang tua selagi mereka bersekolah.

Untuk cerita tentang sekolah Zippo akan saya post berikutnya yaaaaa!!!


Monday, 21 October 2013

Que-Sera-Sera

Hari itu saya sedang mengandung Zippori sekitar 2 bulanan, masih shock dan masih baru belajar menerima bahwa saya sedang hamil, tapi perasaan yang paling dominan adalah rasa takut, ya rasa takut cemas luar biasa, karena saya takut 'ada yang salah dengan anak saya',
karena saya merasa Zippo ada karena ketidak sengajaan, morning sickness 3 bulan pertama yang membuat saya menolak makan dan minum sama sekali sehingga menurut dokter, janin saya tampak mengerut karena kekurangan cairan untuk berenang, sehingga saya merasa gagal merawat sang janin, dan saya takut anak saya tidak 'sempurna' dan ketidak siapan memiliki anak secara mental,materiil, dan spiritual. Membuat saya mengalami paranoid.

Saat Julius mengajak saya mengunjungi mertua, saya duduk menonton tv sendirian di ruang tamu. Siaran kali itu menampilkan cuplikan sebuah iklan asuransi jiwa yang menampilkan sekumpulan anak sekolah yang memiliki keterbatasan fisik,
mereka berdiri di panggung entah untuk acara apa sambil bernyanyi que sera sera bersama untuk para ibu mereka. Saat anak-anak mereka bernyanyi, para ibu menyaksikan dengan seksama , sebagian tersenyum, sebagian menitikan air mata.

Arti dari kata que sera sera, menurut lagunya adalah: what ever will be , will be , kalau diterjemahkan: yang akan terjadi, terjadilah.

Dan disana terbukakanlah mata hati dan pikiran saya, betapa egoisnya saya mengharapkan 'kesempurnaan' menurut rancangan saya yang jelas-jelas tidak sempurna, lagian apakan kesempurnaan itu sendiri? Maka bagaimanapun rupa Zippo saat dia lahir, apapun masalah keuangan, pola pengasuhan, jadi apa dia nanti, maka dia adalah yang terbaik untuk saya, begitu pun sebaliknya saya adalah yang terbaik untuk Zippo. Apapun yang terjadi di depan sana entah ringan atau berat, yang pasti kami akan diberi kemampuan untuk menghadapinya bersama. Que sera sera.

Nah,sekitar 1 minggu yang lalu, anak saya Zippo, tiba-tiba seperti melafalkan 1 lagu yang saya tidak mengenalnya, ternyata dia melagukan 'que sera sera', sepertinya laci memori tentang saya menyanyikan lagu itu terbuka, padahal saya sudah sangat jarang menyanyikannya, karena dari lahir, kalau Zippo gelisah mau tidur, lalu dinyanyikan lagu bukannya tambah tenang tapi malah tambah rewel (padahal suara saya dan Jules, sebagai jebolan paduan suara, ga jelek jelek amat deh :p). Dan akhirnya saya pun kapok dan menghapus impian romantis menyanyikan anak sampai ia tertidur.

Nah, Berikut cuplikan lagu que sera sera yang dinyanyikan Zippo bersama saya.
Dipersembahkan untuk para ibu muda yang baru insyaf seperti saya dan sebagai pengingat betapa diberkahinya saya .


"Sudah besar mau jadi apa, dik?"

Masa kecil hingga remaja saya tidak begitu mengesankan, bahkan cukup traumatis. Semenjak kecil saya dititipkan pada kakek dan nenek atau bersama pembantu selama ayah-ibu bekerja, sehingga saya tidak terlalu dekat dengan orang tua terutama ibu saya.
Ibu saya bukan sosok yang mampu mengekpresikan rasa cintanya dengan mudah. Sehingga saya jarang diajak mengobrol apalagi dipeluk dan mungkin karena lelah bekerja diapun mudah marah, kesalahan kecil yang saya buat kadang memicu ledakan amarahnya yang tak dapat dia kontrol, tak jarang sabetan sapu lidi mendarat di kaki.
Mungkin dia pikir itu cara terbaik untuk mendisiplinkan anaknya yang sedang senang mengeksplorasi apapun dan mungkin itupun yang dia alami saat dia kecil.
Tumbuh besar saya selalu diceritakan ibu, betapa dia hanya satu dari segelintir karyawan yang berkelamin wanita dengan mayoritas lelaki di kantor, mampu berkeliling dunia dan menginap di hotel besar dengan di biayai perusahannya bahkan ia telah membiayai orang tuanya yang bangkrut semenjak sangat muda.

Dan sayapun tumbuh menjadi anak yang mandiri, dingin, ambisius, dan keras hati. Saat kecil saya tidak suka bermain dengan anak lain termasuk dengan adik kalau dipaksakan pasti ujungnya berkelahi, saya jarang menangis, pantang menyerah, tapi sensitif dan nekat. Saya selalu gelisah jika berhadapan dengan lingkungan dan komunitas yang baru, saya takut tertolak dan bersosialisasi sungguh tidak nyaman, tapi sisi nekat saya mendorong untuk masuk saja karena takut dinilai orang kuper (kurang pergaulan), yah saya selalu ingin terlihat baik.

Suatu kali saya dan Julius -sewaktu masih pacaran- berbincang di mobil sambil menunggu lampu merah . Sekilas kami melihat seorang ayah membonceng anaknya yang masih kecil naik motor, lalu kami membayang-bayangkan apa yang akan kami lakukan bila kami telah memiliki anak.
Sungguh menarik, betapa Julius menantikan saat dia bercengkrama dengan sang anak, berkeliling kota sambil menceritakan sejarah tentang bangunan-bangunan kunonya.
Sedangkan saya langsung membayangkan bahwa anak saya akan menjadi anak yang sukses, anak yang tahu dan mampu mengejar mimpinya, mungkin dia berdiri di sebuah mimbar dan menginspirasi banyak orang atau sibuk berkeliling dunia.

Disana ada suatu jeda,jeda yang membuat saya tersadar, bahwa saya melihat keengganan saya untuk menjalin koneksi dengan sang anak. Saya tidak tahu harus mengobrol apa! Saya melewati masa kecilnya dan yang saya lihat hanya target dan ambisi saya untuk menjadikan dia seorang Bos, inspirator, atau orang yang berpengaruh. Seketika saya sadar dan sedih betapa sepertinya saya hanya menjadi sama dengan sosok yang selama ini saya hindari, tidak saya kenal,membuat saya gelisah, bahkan kadang saya benci.

Dua tahun 1 bulan lalu, Zippori hadir dan saya pun bertekad untuk belajar membangun hubungan dengan sang anak , berusaha mengenal dan menerimanya apa adanya, belajar untuk menyayanginya, meminta maaf jika salah, memuji jika dia berprilaku baik, mengapresiasi karyanya, memberi waktu untuk medengar celotehnya dan bermain dengannya dengan sungguh-sungguh, tak perduli betapa konyol prilaku saya asal membuat dia tersenyum, membiarkan rumah berantakan asalkan Zippo dapat menyalurkan ide-idenya yang kadang tak saya mengerti.
Bayangan dia menjadi pempimpin dunia, berdiri di mimbar atau sedang mempresentasikan idenya di negara antah berantah saya singkirkan dulu, saya berkali menyadarkan diri bahwa nantipun sang anak ini akan menjadi seorang pemimpin, minimalnya dia akan menjadi pemimpin dirinya sendiri.
Entah dia sukses atau tidak, bisa keliling dunia atau tidak, memenangkan sesuatu atau tidak, kaya atau tidak, dikenal atau tidak. Yang penting dia menjadi orang yang baik ,tidak pernah merugikan orang lain, berempati pada kesusahan orang lain dan dapat menikmati hidup nya dengan bahagia dari apa yang dia punya.

Untuk apa menjadi pemimpin dunia tapi berprilaku curang, tidak punya hati nurani, korupsi, mementingkan dirinya sendiri, atau lebih parahnya adalah menjadi boneka untuk menyenangkan orang lain .

 Leadership is action, not position. -Donald.H.Mcgannon